Senin, 14 November 2016

Autobiografi (yang Masih dan Akan Terus Berjalan)

Nama saya Samuel Gunawan Siallagan. Saat ini saya adalah mahasiswa di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta). Saya adalah mahasiswa tingkat 5 di perguruan tinggi itu. Kehidupan saya memiliki rangkaian yang saya sadari atau tidak telah membentuk cara saya berpikir, memaknai dan menjalani kehidupan saya hingga saat ini. Mungkin melalui rentetan peristiwa ini apa yang saya tuju dan capai terbentuk berdasarkan rentetan peristiwa di dalam kehidupan saya. Di dalam tulisan ini saya hendak menceritakan secara singkat mengenai kehidupan saya dan berbagai faktor berpengaruh di dalamnya.
            Saya adalah seorang anak laki-laki yang berasal dari keluarga Batak tulen. Bapak dan mama (Panggilan akrab saya untuk ayah dan ibu saya) orang Batak tulen dan besar di Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Akan tetapi perjumpaan mereka terjadi di kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pada masa perjumpaan itu mereka berada dalam proses saling mengenal hingga akhirnya mereka membentuk rumah tangga pada bulan Juli 1989 di Kendari.
            Ayah saya bernama Tumpak Siallagan. Profesinya saat ini adalah seorang guru di salah satu Sekolah Menegah Pertama Negeri (SMPN) 8 Pematangsiantar. Sedangkan ibu saya bernama Delvia Hutahaean yang saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga, yang dulunya sempat berwiraswasta sebagai pengusaha salon di Kota Kendari. Melalui usaha tersebutlah mama saya membantuk bapak saya untuk kuliah sampai lulus hingga pada masa-masa awal bapak saya menjalani pekerjaan sebagai seorang guru. Padahal masa itu mama saya juga baru merintis usahanya. Pengalaman hidup mereka membuat saya kadang iri dan berkata dalam hati, “Masih ada nggak ya cerita begitu zaman sekarang? Apa entar gue bisa ketemu pacar yang nanti jadi istri kaya mama sifatnya ya?” Saya sering tertawa sendiri ketika mengingat hal tersebut.
            Mungkin yang membaca tulisan ini bertanya, kenapa saya harus menceritkan tentang masa lalu hubungan orang tua saya? Hal itu menjadi penting karena saya lahir di tengah keadaan orang tua saya yang saat itu sedang mengalami kesulitan di beberapa segi kehidupan, seperti soal pekerjaan, materi dan beberapa masalah lainnya. Selain itu saya juga lahir ke dunia setelah usia pernikahan orang tua saya berjalan kurang lebih enam tahun. Kelahiran saya yang cukup lama dinanti ternyata menimbulkan prasangka buruk dan membuat orang tua saya, khususnya mama saya merasa sedih dengan keadaan tersebut. Mama saya sempat meminta kepada bapak saya untuk menceraikan dia atau mengadopsi anak, tapi bapak saya berkata kepada mama, “Anak itu pemberian Tuhan, nanti pasti Tuhan kasih ke kita kalau sudah berkehendak.” Mereka tetap berdoa sambil menantikan kehadiran saya. Cerita tersebut saya ketahui karena mama saya menceritakannya kepada saya sejak saya masih kecil.
            Berbagai upaya dilakukan oleh kedua orang tua saya untuk memiliki seorang buah hati dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dua tahun sebelum saya lahir, kedua orang tua saya sempat pergi ke Makassar untuk berobat kepada seorang dokter ahli kandungan di sana, yang diperkenalan oleh teman kedua orang tua saya. Dokter tersebut bernama dr. Gunawan. Kedua orang tua saya pun menjalani berbagai pemeriksaan medis dan setelah pulang dari Makassar beberapa waktu kemudian akhirnya ibu saya mengandung dan melahirkan saya.
            Saya lahir di Kendari, 20 April 1996. Pada awalnya saya di bawa ke salah seorang bidan di Kendari pada tanggal 19 April 1996 pada sekitar pukul 23.00 WITA. Akan tetapi karena bidan yang menangami persalinan mama saya mengalami kesulitan, saya pun dirujuk ke Rumah Sakit Santa Maria, Kendari. Hal yang membuat persalinan mama saya berjalan sulit karena berat saya di dalam kandungan lebih besar dari kandungan pada umumnya dan yang semakin mempersulit ternyata kista yang ada di dalam rahim ibu saya semakin membengkang dan harus diangkat pada saat itu juga agar saya bisa dilahirkan. Saya pun terlahir ke dunia dan diberi nama Samuel Gunawan Siallagan. Samuel berarti anak yang diminta dari Tuhan, sementara nama Gunawan adalah untuk mengabadikan nama dokter yang membantu kehadiran saya di dunia.
            Itulah sekelumit kehidupan saya pada masa permulaan saya lahir di dunia. Saya menjalani masa kecil saya di Kendari. Saya menjalani masa kecil saya dengan orang-orang dari beragam latar belakang, mulai dari latar belakang suku, agama, dan lain-lain. Saya menjalani masa kecil saya di tengah keberagaman. Terkadang saya merasa perbedaan bisa menjadi sumber konflik dan sumber perkelahian di antara teman-teman saya yang memiliki perbedaan dengan saya. Akan tetapi saya merasa bahwa keberagaman lebih besar dari permasalahan yang hadir karena perbedaan. Pada masa kecil saya, yaitu pada masa saya menjalani sebagian besar pendidikan dasar saya di Kendari saya merasa bahwa perbedaan yang hadir membuat saya dapat mengerti indahnya perbedaan dan saling menghargai perbedaan orang satu sama lain.
            Perjalanan pergaulan saya selama masa kecil dan pendidikan dasar saya berjalan dengan cukup baik. Saya merasa pergaulan saya berjalan dengan penuh tenggang rasa dan saling menghargai. Meski pun begitu beberapa konflik tidak dapat dihindari, namun hal tersebut membuat saya semakin mampu untuk menyikapi pergaulan saya. Saya merasakan pergaulan yang baik dengan orang-orang di sekitar saya pada saat itu. Akan tetapi setelah saya pindah ke Pematangsiantar saya mulai jarang berkomunikasi dengan mereka karena berbagai hal.
            Saya pun pindah ke Pematangsiantar karena ayah saya yang pindah tugas. Pada awal saya mencoba membangun relasi dengan orang-orang di sekitar saya merasa kaget. Pasalnya orang-orang di sekitar saya membangun pola relasi yang berbeda dengan orang-orang yang saya temui sebelumnya. Meski pun saya sudah diperingatkan oleh orang tua saya tentang perbedaan yang ada, namun saya masih tetap kaget menghadapi cara bergaul yang cukup keras dan blak-blakan yang terbangun di Pematangsiantar dengan cara bergaul yang penuh kehangatan di Kendari. Saya sempat tidak mampu untuk beradaptasi meski akhirnya saya perlahan dapat beradaptasi dengan lingkungan baru saya. Seperti itulah masa kecil saya hingga masa saya melaksanakan pendidikan dasar saya.
            Masa saya menjalani pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) penuh dengan tekanan. Saya masuk di salah satu sekolah katolik favorit di Pematangsiantar. Pada awalnya saya berekspektasi dapat mengembangkan diri saya dengan baik. Saya dapat menyelesaikan pendidikan saya di tempat tersebut dengan cukup baik. Akan tetapi saya merasa bahwa pada masa saya menjalani pendidikan menegah pertama ini ada hal yang membekas di dalam diri saya yang membawa pengaruh besar dalam kehidupan saya.
            Pada masa saya menjalani masa pendidikan di SMP diwarnai dengan berbagai candaan. Akan tetapi saya sering kali menjadi “korban” candaan tersebut. Bahkan saya merasa bahwa candaan tersebut terasa seperti bullying, meski saya tahu bahwa teman-teman saya menganggap semua itu sebagai candaan. Saya diberi nama panggilan Mutem (Muka Tembok) buat saya. Padahal arti dari kiasan tersebut adalah tidak tahu malu. Sampai saat ini saya tidak tahu apa alasan mereka memanggil saya seperti itu, namun saya merasa bahwa hal tersebut mengganggu saya. Meski pun saya sudah mengatakan kepada teman-teman saya bahwa saya tidak suka dipanggil seperti itu, tapi mereka tetap ngotot dan masih memanggil saya dengan panggilan seperti itu. Semakin hari semakin sering saya dipanggil dengan sebutan itu, bahkan saya merasa panggilan itu telah melekat di dalam diri saya pada saat itu.
            Pada masa SMA saya merasakan berbagai hal yang membentuk saya menjadi pribadi seperti yang sekarang. Pada masa SMA saya merasakan pembentukan diri melalui berbagai pengalaman ekstrakulikuler, khususnya di berbagai bidang organisasi di sekolah. Kesempatan yang saya peroleh di dalam organisasi yang saya ikuti membuat saya belajar untuk mengambil berbagai nilai kehidupan dari berbagai fenomena yang terjadi di sekitar kehidupan saya. Selain itu di satu sisi saya juga belajar untuk membangun kehidupan saya dan mengambil pelajaran berharga dari kehidupan dan pemikiran orang lain.
            Pada masa SMA ini juga saya mulai mencari tempat untuk menemukan sebuah wadah yang dapat menjadi tempat saya untuk menjalani perjalanan kehidupan saya, terlebih lagi di dalam perjalanan spiritual. Pada masa awal SMA saya cukup tertarik untuk mengikuti kegiatan kerohanian Kristen yang ada di dalam sekolah. Akan tetapi saya merasa pada saat itu bahwa saya merasa dipaksa untuk mengikuti berbagai program untuk bisa dikatakan sebagai “Anak Tuhan”. Saya merasa tidak nyaman dengan relasi dan cara berpikir yang coba dibangun pada saat itu, sehingga saya memutuskan untuk meninggalkan persekutuan tersebut dan hanya menjadi pendengar di tengah komunitas Kristen tersebut. Rasa kesal saya semakin bertambah ketika Ujian Nasional. Banyak siswa-siswi yang aktif dalam persekutuan siswa Kristen mengatakan untuk tidak menggunakan kunci jawaban sewaktu UN dengan cara yang lebay. Ternyata sebagian besar dari mereka yang saya tahu tidak dapat melaksanakan apa yang mereka katakan. Pada saat itu saya merasa bahwa iman harus ditunjukkan, tidak hanya dikatakan.
            Petualangan saya dalam upaya menjajaki perjalanan spiritual saya perlahan terbentuk di gereja. Saya mulai aktif di remaja gereja yang sebenarnya saya bentuk bersama dengan beberapa teman-teman saya di bawah bimbingan seorang vikaris alumnae Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta. Pada saat itu kami berusaha membangun organisasi tersebut mulai dari nol, tanpa ada bantuan apa pun dari gereja. Kesulitan dan kebahagiaan yang datang di saat bersamaan dalam membangun dan menjalankan organisasi remaja di dalam gereja membuat saya meraskan bahwa inilah sebenarnya perjuangan. Sebuah bentuk perjalanan yang mengingatkan saya keyakinan di dalam iman terhadap berbagai hal yang dikerjakan di dalam kehidupan. Saya tertampar melalui perjalanan saya di dalam persekutuan remaja di gereja saya bahwa hidup dan berbagai seluk-beluknya adalah perjuangan.
            Pada masa SMA ini juga saya merasa bahwa cita-cita saya kalah pamor dengan cita-cita teman-teman saya lainnya. Pada saat itu saya memilih untuk tidak mengikuti semua jalur penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK). Saya memutuskan hal tersebut karena saya sudah bertekad untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru di STT Jakarta. Akan tetapi banyak orang yang mempertanyakan keputusan saya dan bahkan sebagian orang, termasuk beberapa guru saya yang beragama Kristen mentertawakan cita-cita saya. Salah satu perkataan yang saya ingat adalah bahwa saya tidak memiliki bakat sebagai pendeta (salah satu anggapan tentang mahasiswa teologi yang harus jadi pendeta). Hal tersebut membuat saya sempat kurang percaya diri untuk mencoba masuk ke dalam dunia teologi sebagai pilihan saya.
            Pengalaman saya di dalam pelayanan remaja dan pemuda di gereja serta berbagai pandangan yang “memandang sebelah mata” terhadap keinginan saya membuat tekad untuk mencoba peruntungan untuk mengikuti tes di STT Jakarta semakin bulat. Saya merasa bahwa keyakinan saya pada saat itu adalah jawaban dari doa saya terhadap pergumulan yang sedang saya hadapi. Akan tetapi di saat rasa percaya diri itu mulai bertumbuh, rasa percaya diri yang saya butuhkan untuk memantapkan pilihan saya itu pun kembali runtuh. Pasalnya keraguan kembali muncul dari dalam diri saya karena orang-orang terdekat saya. Bahkan keraguan kali ini membuat saya benar-benar pesimis, karena keraguan tersebut muncul dari kedua orang tua saya, terutama ayah saya.
            Motivasi saya perlahan terbangun dengan cara yang tidak terduga. Hal pertama dimulai dari sharing saya dengan dua orang vikaris HKBP yang merupakan alumni STT Jakarta. Teladan yang mereka tunjukkan melalui pelayanan dan kerja sama saya dengan mereka di persekutuan remaja dan pemuda tempat saya berjemaat membuat saya sangat ingin mampu menjadi pendeta yang baik. Terlebih lagi kedua orang tersebut memberikan saya berbagai motivasi untuk dapat mencapai cita-cita saya. Bahkan sampai pada masa saya menjalani kuliah di STT Jakarta, saya selalu mendapat motivasi sampai saat ini agar belajar dengan baik dan membangun pemikiran untuk mempergunakan ilmu yang didapatkan di STT Jakarta dengan baik.
            Salah satu motivasi terbesar yang sangat berbekas bagi saya adalah motivasi dari saudara-saudara yang bukan berasal dari kalangan Kristen Protestan. Saya mendapat motivasi lebih dari teman-teman saya yang beragama Islam dan Katolik. Di saat rekan-rekan saya yang sesama Protestan ragu bahkan sampai ada yang menertawakan cita-cita saya, mereka hadir memberi motivasi dan semangat yang membuat saya sempat heran dengan apa yang mereka berikan. Bahkan seorang guru agama Islam di sekolah saya sangat mendukung saya dan terus memotivasi saya untuk mengejar cita-cita saya untuk belajar teologi dan menjadi pendeta. Bahkan ketika saya pulang ke Pematangsiantar pada tahun 2014 dan 2015, saya disambut oleh beliau dan pada saat yang bersamaan beliau menunjukkan rasa bangganya dengan pencapaian saya. Hal tersebut membuat saya terharu dan berpikir bahwa cara Sang Misteri mengangkat motivasi umat-Nya sungguh penuh dengan misteri.
Ayah saya benar-benar meragukan saya pada saat itu. Dia mengatakan kalau saya tidak akan mampu mengikuti pembelajaran di teologi kalau saya masih mempertahankan cara belajar saya yang super malas di SMA. Selain itu ayah saya menekankan bahwa saya masih kurang berusaha untuk memperbaiki diri. Akan tetapi di satu sisi ayah saya hanya mengizinkan saya untuk menekuni bidang teologi di STT Jakarta, yang menurutnya sebagai tempat belajar teologi terbaik saat ini. Di satu sisi saya melihat keraguan yang besar di dalam diri saya karena kondisi tersebut. Akan tetapi di balik itu saya melihat adanya harapan besar dari orang yang saya kasihi, yaitu ayah saya untuk memacu saya agar dapat belajar teologi di tempat yang terbaik.
            Keraguan lain yang muncul ketika saya mencoba untuk membangun masa depan saya melalui pendidikan teologi muncul dari ibu saya. Kekhawatiran terbesar ibu saya adalah bahwa saya akan kesulitan ketika saya berada di perantauan ketika saya berada di Jakarta. Akan tetapi saya melihat bahwa kekhawatiran ibu saya muncul dari berbagai pandangan di lingkungan sekitarnya. Ibu saya tidak begitu memahami mengenai dunia akademis, hal tersebut membuat ibu saya cenderung mendengarkan pendapat lain di luar dirinya soal akademis atau dunia pendidikan. Hal tersebut sempat membuat ibu saya mendorong saya untuk kuliah di STT HKBP. Akan tetapi ayah saya tidak setuju dengan ibu saya, bahkan mereka sempat bertengkar karena menurut ayah saya STT HKBP tidak akan menghasilkan teolog yang berbudi pekerti dengan keadaan STT HKBP yang menurut ayah saya sedang dalam keadaan kurang baik. Sementara ibu saya pada saat itu belum siap untuk terpisah jarak dan waktu dengan saya, anak satu-satunya di dalam keluarga. Keraguan terhadap diri saya dan impian saya terus bermunculan dalam upaya saya membangun mimpi saya untuk menjadi seorang pendeta dan teolog.
            Saya pun tetap memberanikan diri saya untuk mengikuti tes di STT Jakarta, dengan keraguan dari berbagai pihak dan rasa percaya diri yang minim di dalam diri saya. Akan tetapi ayah dan ibu saya tetap memberikan dukungan mereka kepada saya, meski ayah saya hingga pada hari terakhir saya mengikuti tes terlihat sekali keraguannya terhadap kemampuan saya. Meski pun begitu ayah saya tetap mengantar dan mendampingi saya untuk mengikuti tes masuk STT Jakarta. Sementara ibu saya tetap mendukung saya meski sebenarnya hatinya berat untuk jarang bertemu dengan saya dan pada akhirnya ketika saya telah diterima menjadi mahasiswa STT Jakarta dan melengkapi administrasi saya, ibu saya mengantar dan menemani saya di masa awal sebagai seorang mahasiswa.
            Mungkin bagi sebagian orang pencapaian atau kelulusan tes masuk sekolah teologi adalah hal biasa. Akan tetapi bagi saya hal tersebut termasuk hal yang sangat membahagiakan dalam hidup saya. Salah satu hal yang membuat saya bahagia adalah belajar teologi merupakan langkah awal untuk menggapai cita-cita saya untuk menjadi seorang pendeta. Saya juga melihat bahwa di balik pencapaian saya sebenarnya saya telah membalikkan anggapan-anggapan yang menyudutkan dan meremehkan kemampuan saya. Bahkan ayah saya sendiri terheran ketika tahu bahwa anaknya sekarang diterima sebagai mahasiswa STT Jakarta. Meski pun begitu nilai motivasi sangat terasa di dalam keraguan dari berbagai pihak jika diambil sisi positifnya. Saya merasa bahwa keraguan membuat kita akan berusaha dengan sekuat dan secerdas mungkin untuk menggapai cita-cita atau keinginan, dan mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi.
            Pada saat ini saya menjalani proses belajar di STT Jakarta. Akan tetapi saya kembali tenggelam dalam keraguan dan kepercayaan diri yang rendah. Meski pun begitu saya mencoba untuk memberikan yang terbaik selama saya menjalani proses studi ini. Saya selalu berharap, berusaha dan berdoa agar dimampukan melewati dan memaknai setiap proses yang ada agar dapat memberikan yang terbaik nantinya di dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya telah menjawab salah satu hal yang diragukan orang lain terhadap saya di dalam kehidupan yang saya jalani. Saya juga telah melewati hidup yang penuh candaan namun menyakitkan hati dari teman-teman saya sendiri. Akan tetapi saya masih belum mampu membangun kepercayaan diri saya. Kiranya melalui proses berteologi yang saya telah jalani, sedang jalani dan akan saya lanjutkan dapat membangun diri saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kiranya misteri kehidupan dari Sang Misteri dapat membuat saya lebih memaknai kehidupan.

Ahok, Bom Samarinda dan Curhatan Si Minoritas

Disclaimer: Tulisan ini terserah pada pembaca apakah mau diseriusin apa tidak. Ini hanya curahan hati yang tidak menggunakan studi ilmiah, jadi santai aja vroh bacanya. Enaknya dibaca sambil nyeruput kopi, makan gorengan dkk.

Semenjak bapak Basuki Tjahja Purnama a.k.a Ahok mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta, media massa di Indonesia mendadak terasa seperti tv series yang peran utamanya adalah Ahok. Bapak Gubernur petahana yang satu ini dicecar mulu oleh berbagai pihak, mulai dari kritik dan saran yang berisi sampai cacian dan hinaan yang nggak jelas apa faedahnya. Tapi tenang dulu bro, sis. Pembahasannya bukan soal politik kok. Lagian gue juga enggak begitu paham politik, entar kalau gue salah nulis di blog ini, tulisan gue dipelintir terus dibilang penistaan (Ups maaf, kecepelosan).

Pertarungan politik antara bapak Ahok dan lawan-lawannya bagi saya termasuk di dalamnya sangat terasa unsur SARA di dalamnya. Gara-gara itu gue jadi mikir, apakah politik sekejam itu, sampai-sampai agama yang menurut gue itu penuh dengan kasih (meski pun dalam kitab suci beberapa agama, termasuk Kristen di dalamnya terdapat unsur kekerasan yang harus diinterpretasi dengan baik) itu bisa dengan seenak jidat dipelintir demi libido politik, kepentingan dan superioritas para pemegang kepentingan di negeri kepingan surga ini?

Media massa di negeri ku ini gak berhenti blow up berita tentang perkembangan pilkada DKI Jakarta. Ada yang pro banget sama pak Ahok, ada juga yang kontra. Media semakin panas memberitakan tentang kiprah pak Ahok setelah video tentang pernyataan pak Ahok (yang katanya) menistakan agama. Perdebatan semakin hari semakin panjang karena satu kasus ini. Energi masyarakat di berbagai penjuru negeri ikut tersita dengan kasus ini. Gue sendiri juga sempat panas kok liat kasus model begini. Tapi gue coba berusaha setidaknya untuk mikir bahwa permasalahan sebenarnya bukan penistaan agama. Ah sudahlah! capek bahas ginian, udah capek gak bisa bikin badan langsing pulak (maap yang nulis curhatan ini perutnya ....... ah sudahlah!).

Kasus pak Ahok yang dianggap menistakan agama ini semakin hari semakin panas. Bahkan semakin hari semakin terasa juga adanya "joki" yang menunggangi pembelaan ini untuk "hasrat" mereka yang belum tersalurkan. Di tengah hiruk pikuk kasus yang tidak jelas simpul benang kusutnya ini, ddddddddddddduuuuuuuuuaaaaaaaarrrrrrrr. Bom meledak di sebuah gereja di Samarinda. Akan tetapi entah ini perasaan gue doang atau nggak, berita ini rasa-rasanya kurang di blow up sama media. Apa karena berita ini tidak membawa keuntungan materil? (Tuh kan, jadi buruk sangka duluan gue).

Bom telah meledak di Samarinda. Berdasarkan beberapa informasi yang gue dapat, pelakunya adalah seorang yang melakukan peledakan tersebut adalah seorang yang memakai baju yang menjelaskan Jihad sebagai jalannya hidupnya (tapi ente ga boleh berprasangka buruk dulu coy soal jihad!!!!). Gue sih nggak tau pasti apa motif dari pelaku kejadian itu. Tapi entah kenapa gue percaya kalau kejadian itu tidak sesederhana yang dibayangkan. Bisa jadi kan ada banyak motif di dalam perbuatan itu. Jangan seenak jidat aja kita bilang ini itu tanpa bukti, yang ada malah bikin suasana makin keruh, udah gitu makin gak karuan.

Satu hal yang menyayat hati gue saat ini adalah korban meninggal dan luka waktu bom meledak di gereja di daerah Samarinda itu yang terekspos media adalah ANAK-ANAK. Kenapa tulisannya huruf gede semua? Capslock gue gak jebol kok, biar pun ini laptop mulai banyak penyakitnya. Gue rada bingung aja lihat peristiwa ini. Kasian amat itu bocah-bocah masih kecil, masih manis-manisnya, lugu-lugunya, asyik-asyiknya main sudah diajak berkenalan sama bom. Mana ada satu anak yang harus meregang nyawa karena perbuatan yang gue juga makin burem liatnya. Adek intan sudah dipaksa meregang nyawa, melawan luka bakar yang menggerogoti tubuh mungilnya itu. Di tengah kebahagiaan beberapa anak di tempat lain yang didatangi oleh sukacita, dia justru didatangi oleh seseorang yang membawa oleh-oleh berupa bom, yang sialnya memaksa intan meregang nyawa, Astaga dek, ngeri kali lah orang itu memang sama mu. Semoga tenang di sisi-Nya ya, doakan kami yang masih berjuang buat paham apa itu makna perdamaian.

Dua peristiwa itu, fenomena pak Ahok dan ledakan bom di Samarinda membuat gue mikir, dimana itu rasa saling menghargai yang gue dengar selama ini? Toleransi hanya menjadi kata manis sampe buat yang dengar rasa rasa kaya kelebihan gula untuk mengajak masyarakat yang beragam ini untuk hidup dalam damai. Sebuah konstruksi kedamaian yang masih buram kesinambungan antara makna dan pelaksanaannya. Mayoritas harus menghargai minoritas, duh ini lagi yang buat gue makin bingung, keliatan seperti ada pihak yang lemah dan ada pihak yang kuat, yang banyak bersuara yang sedikit terbungkam, termasuk dalam hal agama. Padahal (katanya) di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini semua orang dijamin kehidupannya, tapi sebagian dari kita sudah tahu jawabannya.

Gue cuma bisa berharap di tengah kisruh bangsa ini soal penistaan agama, kebenaran siapa yang paling benar, bangsa kita dapat belajar dari peristiwa yang terjadi belakangan ini. Tapi kalau gue liat bakal susah malah cenderung mustahil kalau masyarakat tidak mau membuka mata soal perbedaan dan adanya kebenaran yang lain di tengah kehidupan sehari-hari. Ini celoteh gue soal keadaan yang carut marut belakangan ini. Kalau banyak salah-salah kata mohon dimaafkan. Tulisan ini tidak lebih dari luapan emosi yang coba diceritakan. Luapan emosi akan memori indah dan syair indah tentang sebuah negeri kepingan surga, yang hidup rukun damai dalam rasa saling menghargai, tanpa ada embel-embel mayoritas-minoritas, retorika soal toleransi dan antek-anteknya.




Kamis, 26 Mei 2016

Christian Nurture Bushnell dan Perjalanan Iman dan Kehidupan Anak

Setiap manusia akan terus mengalami perkembangan dalam kehidupan. Perkembangan yang dialami oleh manusia terdiri dari berbagai aspek, mulai dari perkembangan fisik, psikis hingga perkembangan iman. Jika mengingat pentingnya pertumbuhan di dalam diri manusia, maka perlu untuk merumuskan mengenai pertumbuhan yang membuat manusia bertumbuh menjadi semakin baik.
            Tulisan ini akan mencoba membahas mengenai pertumbuhan berdasarkan perspektif Pendidikan Kristiani. Pembahasan dalam tulisan ini akan menggunakan teori pertumbuhan dalam buku Horace Bushnell, yaitu Christian Nurture. Teori Bushnell di dalam tulisan ini akan menjadi “kacamata” untuk melihat pertumbuhan anak, khususnya pertumbuhan anak pada masa kini. Hal tersebut menjadi penting mengingat masa kanak-kanak menjadi salah satu masa krusial dalam pertumbuhan manusia.    
Riwayat Hidup Horace Bushnell
            Horace Bushnell adalah seorang teolog yang membawa pengaruh signifikan bagi Pendidikan Kristiani. Bushnell lahir pada tanggal 14 April 1802. Bushnel adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Bushnell adalah anak dari ayah seorang petani, tapi Bushnell dibesarkan dalam keluarga yang beriman dan dididik dengan bijaksana oleh kedua orang tuanya. Keluarga mereka menjadi keluarga yang harmonis (Boehlke 2011, 439).
            Masa kanak-kanak Bushnell dapat dikatakan cukup bahagia. Bushnell dididik dalam keluarga yang bijaksana dan dapat bekerja sama satu dengan yang lain. Selain itu Bushnell juga dididik dalam lingkungan keluarga yang beriman. Akan tetapi pada masa inilah Bushnell merasakan kemerdekaan seorang anak yang dapat mengambil keputusan sendiri yang berkaitan dengan iman. Pada usia sembilan belas tahun Bushnell akhirnya menjadi anggota jemaat Kongregasional. Setelah itu dia melanjutkan pendidikannya di Yale University. Pada saat menjadi mahasiswa dia dikenal sebagai mahasiswa yang rajin, cerdas, bijaksana dan aktif dalam berbagai kegiatan (Boehlke 2011, 439-441).  
            Kebangunan rohani yang melanda Yale University pada saat itu turut mempengaruhi pengalaman iman Bushnell. Pada masa munculnya kebangunan rohani tersebut, Bushnell memutuskan untuk beralih dari bidang hukum ke dalam jabatan pendeta. Ketika sudah menjadi pendeta Bushnell mengkritik cara berkhotbah para pendeta pada masa kebangunan rohani. Menurut Bushnell cara berkhotbah yang banyak dipertunjukkan pada masa itu. Bushnell melihat adanya siasat untuk membuat jemaat memenuhi maksud dari penginjil. Pertentangan tersebut didasari oleh pemahaman Bushnell bahwa iman akan bertumbuh secara alamiah di dalam kehidupan, termasuk di dalam rumah tangga (Boehlke 2011, 442-433).
            Perjalanan iman Bushnell semakin berat ketika dia terus mengalami gangguan kesehatan yang mengganggu aktivitasnya. Di tengah sakit yang dialaminya, Bushnell terus berkarya, baik dalam karya akademis melalui pemikiran-pemikirannya atau melalui karya nyata di tengah lingkungannya. Bushnell tetap fokus dalam pelayanan Rohani dan petualangan imannya. Sampai akhirnya pada 17 Februari 1876 dia menghembuskan nafas terakhirnya dengan meninggalkan banyak buah pemikiran (Boehlke 2011, 448-449).
Pemahaman Bushnell tentang Pendidikan Agama Kristen
            Bushnell adalah salah satu tokoh yang membawa pengaruh di dalam pendidikan kristiani. Bushnell menekankan mengenai pentingnya penanaman nilai-nilai Kristiani. Penanaman nilai di dalam diri manusia yang dilakukan sedini mungkin. Nilai-nilai yang ditanamkan fokus kepada bagaimana membuat naradidik mencintai hal-hal baik sedini mungkin (Bushnell 1960, 4). Jika berdasar pada pemahaman Bushnell maka pendidikan Kristiani fokus pada penanaman nilai-nilai kebaikan.
            Teori yang dipaparkan oleh Bushnell pada saat itu berdasarkan konteks kebangunan rohani. Pada saat itu gereja dan orang tua cenderung mengabaikan pengajaran dan pertumbuhan dalam Iman Kristen. Padahal tuntunan dalam pertumbuhan anak mampu membuat anak mengenal berbagai hal di dunia. Pemahaman yang berkembang pada saat itu justru menekankan mengenai kuasa Roh yang mengubahkan pemahaman iman orang-orang, termasuk anak-anak secara radikal (Lawson 2001, 23).

Pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Pertumbuhan anak ditentukan juga oleh didikan di sekitarnya. Orang tua menjadi pendidik terdekat bagi anak. Akan tetapi orang tua juga bisa membawa pengaruh kurang baik dalam pertumbuhan anak. Bushell dalam teorinya membahas mengenai peran orang tua dalam pertumbuhan anak. Menurut Bushnell orang tua jangan memaksakan harapan pada anak dalam masa pertumbuhan. Anak bertindak sesuai dengan perasaan yang dialami saat itu juga. Hal tersebut akan menjadi masalah, karena pada masa anak-anak manusia dapat ditanamkan berbagai nilai-nilai, termasuk nilai kekristenan yang dipaksakan  (Bushnell 1960, 5).
            Harapan dan ajaran mengenai berbagai nilai hanya diberikan dari satu sudut pandang. Pertumbuhan di dalam iman Kristen jangan dipandang hanya dalam satu sisi. Sebagai pendidik, manusia tidak dapat memusatkan pemahaman nilai hanya kepada dirinya saja. Gereja atau orang-orang yang memiliki kuasa atas pendampingan dalam pertumbuhan harus mampu mewujudnyatakan nilai-nilai Kristiani. Masa anak-anak diharapkan menjadi masa manusia melihat bentuk kebaikan, tidak hanya definisi kebaikan (Bushnell 1960, 7).
Penekanan mengenai kemerdekaan anak jangan sampai disalahartikan oleh orang tua. Pasalnya orang tua tetap harus menciptakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan anak. Orang tua di dalam proses pendidikan anak harus menunjukkan nilai-nilai kasih di tengah keluarga. Perbuatan baik yang dilakukan oleh anak tidak hanya berasal dari keputusan pribadi yang diambil oleh anak. Pengalaman yang baik mengenai hidup dalam kasih dan dalam nilai-nilai Kristiani yang membuat anak memahami pengalaman imannya (Boehlke 2011, 467).
            Nilai-nilai Kristiani yang harus ditanamkan menurut Bushnell harus dimulai sejak usia dini. Manusia sejak usia dini harus ditanamkan mengenai cara hidup di dalam iman Kristiani. Penanaman nilai-nilai Kristiani sejak dini dapat dimulai dari kedua orang tuanya. Jika hal tersebut sudah terpenuhi, maka manusia tidak memerlukan perubahan iman yang radikal. Iman anak akan bertumbuh secara bertahap melalui pengalaman hidup mereka sehari-hari (Lawson 2001, 23). Hal tersebut juga dapat didukung dengan kebebasan anak dalam melewati dan menentukan pilihannya dalam perjalanan iman mereka.
Bushnell juga menekankan mengenai pengajaran akan perbuatan yang baik dan benar. Ketika membicarakan mengenai perbuatan yang baik dan benar, orang tua atau pendidik perlu membedakan antara perenungan mengenai apa itu yang baik dan ketaatan yang dapat diperlihatkan atau dipraktikkan dalam nilai-nilai kebaikan. Anak-anak jangan hanya diberi penekanan emosional mengenai hal yang baik dan benar. Akan tetapi anak harus memahami dan mencintai perbuatan baik melalui hal-hal yang konkret. Ketika hal tersebut tercapai maka nilai-nilai kebaikan akan menjadi nilai yang vital dalam kehidupan anak-anak, sebagai bagian dari perjalanan iman anak-anak (Bushnell 1960, 16).
            Teologi Bushnell mengenai pengalaman pribadi turut menentukan pemahaman Bushnell mengenai Pendidikan Kristiani. Menurut Bushnell proses pertumbuhan dan pemahaman iman seseorang ditentukan oleh pengalaman pribadi. Pemahaman khas akan sesuatu di dalam kehidupan sangat tergantung dari pengalaman seseorang. Boehlke memberi ilustrasi seperti dua orang yang mencoba membandingkan rasa manis sebuah duku, satu menganggap rasanya manis akan tetapi yang lain tidak. Seperti itulah kira-kira bagaimana pengalaman pribadi menentukan pemahaman akan nilai kebaikan dan iman (Boehlke 2011, 453).
            Bahasa keagamaan hanya dapat diucapkan melalui kiasan atau ibarat. Ibarat dapat diartikan sebagai sebuah upaya untuk menggambarkan pemahaman-pemahaman tertentu dengan cara yang lebih mudah dipahami. Akan tetapi sifat dari bahasa keagamaan hanya sebagai ibarat untuk menjelaskan pengalaman iman. Ibarat itu tidak sama dengan kenyataan-kenyataan yang hendak ditunjukkan melalui ibarat tersebut (Boehlke 2011, 454). Berdasarkan pemahaman tersebut maka ibarat tidak sepenuhnya dapat menggambarkan pemahaman iman melalui pengalaman pribadi.  Pemahaman pribadi tetap menjadi bagian penting dalam pertumbuhan iman.
            Bushnell yang menekankan pada Pendidikan Kristiani yang fokus pada anak menjabarkan bahwa anak-anak adalah bagian dari organisme dalam keluarga. Boehlke menjelaskan bahwa Pendidikan Kristiani di dalam keluarga adalah bagian dari organisme yang belajar bersama. Belajar bersama akan membuat setiap bagian dari keluarga, termasuk anak akan lebih dekat dengan prakarsa Allah. Mereka akan memperkuat fondasi kehidupan yang saling melengkapi satu sama lain, bukan saling mendominasi dan mengupayakan hidup yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi (Boehlke 2011, 485).
             Jika kita melihat penjabaran dari Bushnell, maka terlihat bahwa anak-anak dalam perkembangan imannya harus tetap dalam pendampingan lingkungan sekitarnya. Orang tua yang menjadi pendamping paling dekat bagi anak dalam petualangan imannya. Orang tua harus mampu menyediakan ruang bagi anak untuk pertumbuhan iman mereka. Kesadaran akan pentingnya pertumbuhan iman harus disadari betul oleh orang tua. Karena iman anak tidak akan tumbuh dengan sendirinya.
            Kesimpulan yang dapat diambil dari teori Bushnell adalah pengembangan diri. Harapan yang hendak dicapai melalui pendekatan ini adalah iman akan bertumbuh menjadi iman yang tidak statis. Pola asuhan yang hendak diterapkan oleh Bushnell bukan hanya sekedar penambahan pengetahuan. Akan tetapi yang hendak ditekankan oleh Bushnell adalah teori dan praktik dalam nilai Kekristenan (Boehlke 2011, 462).
Pertumbuhan Iman Anak pada Masa Kini
            Ada anggapan yang menyatakan bahwa pada masa kanak-kanak adalah masa yang mudah untuk membentuk seorang manusia. Masa kanak-kanak dianggap sebagai masa yang paling mudah untuk memasukkan berbagai nilai kehidupan dalam diri manusia. Jika anggapan tersebut benar, maka pada masa kanak-kanak tidak tertutup kemungkinan akan mudah membentuk iman manusia. Untuk memahami perkembangan anak dapat dibantu dengan melihat berdasarkan tiga tahap perkembangan dalam teori perkembangan kepercayaan James W. Fowler:
·         Eksistensial tak Terdiferensiasi
Pada masa ini anak-anak berada dalam masa bayi. Artinya pada masa ini adalah masa penjajakan hubungan dengan lingkungan sekitar. Pada masa ini anak akan mulai terbentuk rasa percayanya terhadap orang tua dan lingkungan sekitar. Pada masa ini sulit untuk diteliti secara empiris mengenai perkembangan iman anak  (Downs 1995, 77).
·         Kepercayaan Intuitif-Proyektif
Anak dalam masa ini berada pada usia enam atau tujuh tahun. Anak pada masa ini lebih menekankan pada pengalaman inderawi dalam membentuk pemikirannya. Sehingga penjelasan mengenai orang tua yang sifatnya sebab-akibat sulit untuk dipahami oleh anak-anak. Pada masa ini juga anak-anak dalam cara berpikirnya masih egosentris, karena belum mampu untuk mengakomodir dua pemikiran yang berbeda. Pada masa ini pertumbuhan akan berbahaya jika anak terlalu dieksploitasi untuk memperkuat ajaran moral doktrinal (Supratiknya 1995, 115-117, 131). Hal tersebut juga tidak menutup kemungkinan terjadi pada pertumbuhan iman.
·         Kepercayaan Mistik-Harfiah
Pada masa ini anak akan memiliki pemikiran yang lebih logis dan terstruktur. Pada masa ini juga anak akan belajar untuk memisahkan hal-hal yang nyata dan semu. Pertumbuhan pada masa mistis harafiah akan mampu membantu anak untuk memadukan pengalaman ke dalam bentuk cerita. Pada masa ini juga anak-anak telah mampu mengambil perspektif dari orang-orang dewasa di sekitarnya dan membandingkan dengan pengalaman mereka (Supratiknya 1995, 132-133).
            Penjabaran mengenai teori perkembangan kepercayaan dari James W. Fowler tersebut dapat dikatakan mendukung teori Bushnell tentang pertumbuhan iman dalam kehidupan. Tiga bagian tahapan perkembangan iman dalam teori Fowler menunjukkan adanya proses pemaknaan dalam ketiga tahap tersebut.
Pemaknaan di dalam kehidupan dapat memunculkan pengalaman pribadi bagi anak. Pengalaman pribadi akan menentukan bagaimana cara seorang anak memaknai iman mereka melalui proses perkembangan (Boehlke 2011, 453). Terlepas dari perbedaan cara memaknai hal-hal yang terjadi di dalam kehidupan, yang terpenting adalah dari proses tersebut anak dapat memahami dan membentuk cara berpikirnya mengenai hidup mereka, termasuk iman mereka.
Pendidikan yang hendak ditanamkan oleh Bushnell bertujuan agar perkembangan iman anak dapat berlangsung secara dinamis (Boehlke 2011, 462). Akan tetapi apakah prinsip dari Bushnell masih dapat diterapkan pada zaman globalisasi seperti sekarang ini? Pertanyaan tersebut muncul mengingat perbedaan konteks pada masa Bushnell dan masa kini yang terlihat sangat kontras.
  Prinsip dasar yang perlu diingat dalam pendidikan anak di keluarga dalam teori Bushnell adalah membuat kehidupan yang kondusif bagi anak. Orang tua harus memberi perhatian yang baik kepada anak-anaknya. Pasalnya jika orang tua jarang memberikan waktu dan perhatian untuk anaknya, maka masa-masa untuk melatih kepekaan iman anak dan berproses bersama anak tidak akan terulang lagi (Boehlke 2011, 480-481).
Anak-anak semakin dekat dengan media informasi, misalnya televisi. Anak-anak tidak dapat terhindarkan dari berbagai informasi yang dapat mempengaruhi perkembangan pribadi dan iman mereka. Jika anak-anak tidak didampingi dalam pertumbuhan mereka, maka anak-anak akan memiliki sensitivitas yang kurang peka (Carrol 1990, 258-259). Akan tetapi hal tersebut akan sulit terealisasi jika orang tua tidak memahami betapa pentingnya pendampingan dalam tumbuh kembang anak, termasuk dalam pertumbuhan iman melalui proses dan pengalaman dalam kehidupan.
Orang tua seharusnya tidak melalaikan tanggungjawab untuk mendampingi pertumbuhan anak. Orang tua juga disatu sisi tidak boleh otoriter terhadap anak. Orang tua dituntut harus menjadi orang tua yang berwibawa dalam mendidik anaknya. Jika hendak melakukan pendekatan seperti ini maka perlu disadari oleh orang tua bahwa mereka harus menjadi pihak yang paling peka terhadap kebutuhan anak. Akan tetapi dalam batas-batas tertentu berdasarkan situasi dan kondisi yang terjadi pada proses pertumbuhan anak (Collins 1990, 103).  
            Jika orang tua telah mampu bijaksana dalam menyikapi perkembangan anak. Maka orang tua dapat melaksanakan berbagai hal-hal yang mendukung dalam pertumbuhan iman anak. Usaha orang tua untuk menjadi lebih bijaksana adalah bentuk upaya mewujudkan orang tua yang mendidik berdasarkan nilai-nilai Kristen. Orang tua juga harus menyikapi perkembangan iman anak dengan bijaksana. Selain itu orang tua harus menyadari bahwa orang tua harus menyediakan sarana yang tepat dan mampu mengembangkan daya berpikir anak mengenai iman mereka (Boehlke 2011, 481, 488). Akan tetapi yang terpenting adalah orang tua harus mempraktikkan pemahaman iman mereka agar anak-anak memiliki contoh yang konkret dalam perkembangan iman (Katolisitas website 2016).
Kesimpulan dan Refleksi
             Teori Bushnell mengenai pertumbuhan secara kristiani berfokus pada anak dan orang tua. Hal tersebut menunjukkan bahwa orang tua dan anak adalah satu kesatuan dalam keluarga. Perkembangan anak turut ditentukan oleh orang tua dan lingkungan sekitar. Akan tetapi upaya anak untuk menemukan nilai-nilai kehidupan dan imannya tidak dapat disisihkan oleh orang tua. Pemahama-pemahaman yang coba dijabarkan oleh Bushnel masih relevan untuk masa kini, yang menekankan anak yang terus mengeksplorasi iman dan orang tua yang peka terhadap anak.

Daftar Acuan
Boehlke, Robert R. 2011. Sejarah perkembangan pikiran dan praktek Pendidikan Agama
Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius sampai perkembangan PAK di Indonesia.
Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Bushnell, Horace. 1960. Christian Nurture. New Haven: Yale University Press.
Carrol, David. 1990. Spiritual Parenting: A loving guide for the new age parent. New York:
            Paragon House.
Downs, Perry G. 1995. In The power of Fowler. In Nurture that is Christian: Developmental
            Perspectives on Christian Education. Ed. James C. Willhoit & John M. Dettoni. 75-90.
            Grand Rapids: Baker Books.
Lawson, Kevin E. 2001. In Historical foundation of Christian Education. In Introducing
Christian Education: Foundations for the twenty-first Century. Ed. Michael J. Anthony.
17-34. Grand Rapids: Baker Academic.
Supratiknya, A. Peny. 1995. Teori perkembangan kepercayaan: Karya-karya penting James W.
            Fowler. Terj. Agus Cremers. Yogyakarta: Kanisius.
Website
Katolisitas. Peran Orang Tua dalam Pembinaan Iman Anak http://www.katolisitas.org/peran

orang-tua-dalam-pembinaan-iman-anak/ (diakses 4 Mei 2016)

Etika Luther dalam Meninjau Fenomena Kepemimpinan Ahok

Latar Belakang Pengajaran Luther
Martin Luther adalah seorang pemikir Kristen yang mempelopori lahirnya reformasi. Martin Luther adalah seorang pengkhotbah dan guru yang saleh. Luther menekankan pengajarannya pada pemahaman kekristenan yang didasari pada kebenaran kitab suci. Pandangannya ini tidak hanya membawa pengaruh di gereja. Ajaran-ajaran yang dibawa oleh Luther membawa pengaruh bagi dunia pada zamannya (Grosshans 2001, 13).
            Luther bertumbuh dalam masa yang penuh dengan perubahan. Luther bertumbuh pada masa dinasti Charles V (1500-1558). Pada masa itu terjadi ledakan ekonomi dan kapitalisme. Banyak penduduk yang berhasil mengembangkan usaha mereka. Luther dalam hidupnya memperoleh perjalanan iman yang membuatnya menyadari akan kebesaran Allah. Luther juga melawan praktek Indulgensia yang menunjukkan penerapan otoritas berlebihan di dalam gereja katolik. Pendirian Luther untuk mempertahankan prinsipnya menjadikan kitab suci sebagai pembaru terus dipertahankan meski banyak rintangan menghadang perjalanan hidupnya (Grosshans 2001, 15-25).
            Ajaran-ajaran Martin Luther sangat dipengaruhi oleh konteks yang terjadi pada masa hidup Luther. Pengaruh ajaran-ajaran Luther sangat dipengaruhi oleh pergolakan yang terjadi selama masa reformasi gereja. Luther saat itu berada dalam keadaan yang penuh dengan otoritas di dalam gereja. Pada masa itu Luther mengkritik pemikiran-pemikiran gereja yang menurutnya kurang tepat dan tidak menunjukkan perbuatan yang baik (White, 1981).
Ajaran Martin Luther mengenai Kebaikan
            Manusia menurut Martin Luther harus terus berbuat baik. Manusia harus terus berbuat baik agar membawa dampak di dalam kehidupan. Dampak baik dari kehidupan terhadap orang lain akan terlihat saat manusia berusaha untuk lebih baik lagi di dalam kehidupannya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa manusia tidak menjalani kehidupan yang statis, karena manusia akan senantiasa terus memperbaiki diri (White 1981, 153).
            Ajaran Luther mengenai etika sangat terkait dengan ajaran Luther mengenai iman Kristen. Ajaran etika Luther menekankan mengenai kehidupan di dalam Tuhan. Perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia adalah perbuatan yang didasari oleh keyakinan iman yang dimiliki oleh manusia. Perbuatan baik bukan semata-mata hanya sebagai cara agar manusia dapat diterima Allah di kerajaan surga. Kebaikan manusia akan dilengkapi di dalam kematian dan kebangkitan Yesus (Gritsch & Jenson 1976, 137).
             Luther juga sangat menekankan mengenai hukum dalam kehidupan manusia. Menurut Luther manusia memiliki hukum alamiah. Hukum alamiah yang dimaksud berasal dari kebijaksanaan, pengalaman pribadi dan korporasi politik. Hukum alamiah hadir di tengah iklim kehidupan yang penuh dengan berbagai permasalahan. Akan tetapi hukum Allah tetap menjadi yang utama bagi manusia. Maka dari itu menurut Luther sangat penting hukum untuk diajarkan kepada manusia, agar manusia memiliki kebijaksanaan untuk menentukan yang baik dan yang buruk (White 1981, 158).
            Manusia menurut Martin Luther memiliki kebebasan dalam kehidupannya. Akan tetapi kebebasan yang dimiliki oleh manusia berada bersamaan dengan dosa manusia. Untuk itu keselamatan dari Allah akan melengkapi kebebasan dalam diri setiap manusia. Akan tetapi kebebasan yang dimili oleh manusia akan membawa pengaruh pada manusia. Kebebasan manusia akan mempengaruhi perbuatan baik manusia. Kebebasan manusia akan tetap berada dalam lingkaran dosa bila kepentingan pribadi dan rasa ingin memiliki masih mendominasi manusia (Grosshans 2001, 78). Penjabaran pemahaman Luther mengenai kebebasan memunculkan pemahaman bahwa kebaikan akan sulit terlihat bila latar belakangnya adalah kepentingan pribadi. Kebaikan juga tidak akan terlihat bila manusia tidak menggunakan kebebasan dalam dirinya untuk kebaikan bersama.
Luther dan Pemahaman Politik
            Manusia di dalam kehidupannya tidak terlepas dari politik. Pada dasarnya politik tidak hanya berada pada level pemerintahan. Politik menjadi hal yang diusahakan di dalam kehidupan oleh banyak orang. Alasan mendasar dari pendapat tersebut karena politik dapat membentuk struktur di dalam kehidupan manusia. Kehidupan manusia dapat berjalan sesuai kondisi politik yang coba diterapkan dan diperlihatkan di dalam kehidupan (Rendtorff 1989, 14).
            Pemahaman politis yang ditawarkan di dalam pemahaman Luther berfokus pada upaya mereduksi konsep politik yang penuh dengan otoritas dan kekuasaan pengadilan.  Berdasarkan pemahaman tersebut Luther mencoba memberikan pemahaman baru mengenai konsep berpolitik. Dalam teologi Lutheran konsep politik tetap berfokus pada Allah dan manusia sebagai mahluk yang berdosa. Politik menjadi sarana manusia untuk menjauhkan diri dari kekerasan yang berdasarkan pada proses penyaliban Yesus Kristus (Rendtorff 1989, 15).
            Pandangan lain mengenai politik dalam kerangka berpikir Luther adalah soal pelayanan. Politik dapat menjadi sarana untuk melaksanakan hidup yang baik bagi orang lain. Politik dapat menjadi sarana untuk mewujudkan kehidupan yang baik bersama dengan orang-orang di sekitar. Hal tersebut didasari pada pengajaran dari Allah melalui hukum Allah yang dipahami oleh manusia (Gritsch & Jenson 1976, 185). Hukum Allah menjadi dasar manusia untuk bertindak mewujudkan politik yang berdampak baik bagi kehidupan semua orang (White 1981, 158).
            Pengakuan akan penyertaan Allah dalam diri manusia menjadi faktor yang sangat penting dalam hidup manusia, termasuk di dalam pilihan politis manusia. Allah menciptakan manusia menjadi penggerak kehidupan di dunia, meski dengan berbagai pemahaman yang berbeda-beda. Intinya bukan pada mempersatukan pemahaman, melainkan pada mengakui kehadiran Allah dan menguatkan pilihan untuk berbuat kebaikan di tengah pergumulan dan polarisasi. Politik berdasarkan interpretasi firman Allah membuat manusia beroritentasi pada masa depan bersama yang lebih baik (Gritsch & Jenson 1976, 185-186).
                Pemahaman mengenai politik berdasarkan kerangka berpikir etik Luther memberi pemahaman mengenai bagaimana proses politis di dalam kehidupan. Proses politik yang ditunjukkan oleh Luther adalah sebuah kerangka berpikir untuk memahami politik yang didasarkan pada Allah dan firman-Nya sebagai pusat dari pemahaman politik secara Kristiani.
            Etika yang diajarkan oleh Lutheran sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran mengenai kuasa Allah dan hukum Allah. Perbuatan baik di dalam kehidupan, termasuk di dalam politik adalah bagian dari tanggungjawab moral manusia. Manusia diharapkan tidak hanya mampu memahami dan mengajarkan berbagai nilai-nilai kebaikan di dalam kekristenan. Manusia diharapkan mampu menunjukkan hal-hal baik di dalam kehidupan, termasuk di dalam politik. Akan tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah soal kebersamaan. Manusia senantiasa harus mengupayakan kebaikan di dalam kehidupan politis secara bersama-sama (Ulrich 2005, 34).  Hal tersebut perlu diperhatikan dan dilaksanakan karena politik akan membawa dampak sosial. Politik harus membawa pengaruh baik bagi semua orang.
Tinjauan terhadap Perjalanan Politik Ahok berdasarkan Etika Luther
            Indonesia belakangan ini mengalami pergolakan dalam dunia politik. Banyak sekali pemberitaan di media massa mengenai politik di Indonesia. Berita-berita yang disampaikan di media massa sangat beragam, mulai dari berita pencapaian program kerja, hingga berbagai skandal di dunia politik yang menghebohkan negeri. Pergolakan politik yang terjadi di Indonesia membuat mata tertuju pada para pemimpin di negeri ini, mulai dari tingkat tertinggi hingga tingkat terendah.
            Kondisi politik di Indonesia yang tidak stabil dan penuh kepentingan membuat dimensi sosial politik harus direfleksikan kembali. Politik yang dilandasi oleh pemahaman akan dimensi politis manusia yang baik menjadi penting. Pembahasan yang alot dan berbelit-belit di dalam politik akan menjadi nihil jika tidak menyadari dimensi politis manusia di dalam pelaksanaan politik.
            Dimensi politis manusia adalah dimensi masyarakat yang ada di dalam sistem politik secara keseluruhan. Dimensi politis manusia menjadi salah satu landasan di dalam berpolitik. Itu artninya di dalam pendekatan yang politis perlu memikirkan aspek kemanusiaan di dalamnya. Artinya berbagai hal yang dilaksanakan dan diputuskan di dalam politik harus mengacu pada masyarakat secara keseluruhan (Magnis-Susesno 1994, 19-20).
            Pemahaman nilai moral perlu di dalam melaksanakan sistem politik, baik di dalam negara atau pun di dalam tatanan sosial masyarakat yang lain. Nilai moral dapat dijadikan sebagai ukuran untuk menentukan patut atau tidaknya keputusan yang diambil di dalam sistem politis yang terbentuk (Magnis-Suseno 1994, 15). Artinya setiap pengambilan keputusan harus berdasarkan pertimbangan moral. Pertimbangan moral menjadi sarana untuk melihat apakah keputusan tersebut patut dilaksanakan atau tidak. Pertimbangan moral yang baik dapat diperoleh salah satunya dengan penghayatan iman manusia. Manusia sebagai perpanjangan tangan Sang Kuasa untuk menunjukkan nilai-nilai kebaikan di tengah kehidupan.
Kondisi yang dihadapi Luther pada masanya mirip dengan kondisi di Indonesia. Tentu saja konteks permasalahan yang dihadapi sangat berbeda. Luther melawan kebijakan indulgensi atau penjualan surat pengampunan dosa, karena surat pengampunan dosa membawa dampak buruk bagi umat pada saat itu. Hal tersebut bertentangan dengan prinsip Luther yang menekankan keselamatan berasal dari Allah. Meski pun pada akhirnya Luther tetap mendapatkan perlawanan dari berbagai kalangan (Grosshans 2001, 19). Luther pada saat itu juga terus mengupayakan kitab suci yang dapat dibaca oleh semua orang. Artinya Luther mengupayakan penerjemahan Perjanjian Baru dari bahasa Yunani ke bahasa Jerman agar firman Allah dapat dipahami semua orang dan menjadi dasar kehidupan umat Kristen (Grosshans 2001, 21). Hal tersebut bertujuan agar dampak baik dari mengetahui firman Allah terasa bagi semua orang.
            Penjabaran pada bagian sebelumnya menunjukkan bahwa Luther ingin mengubah paradigma mengenai politik di dalam gereja. Politik dapat membawa dampak sosial bagi manusia. Untuk itu politik lebih ditekankan sebagai upaya untuk mewujudkan kehidupan bersama yang lebih baik. Peristiwa yang dialami oleh Luther di dalam gereja juga menunjukkan bahwa politik bukan hanya mempertahankan idealisme semata.
            Pengambilan kebijakan sebagai bagian dari politik yang membawa dampak bagi masyarakat menjadi sorotan. Politik di Indonesia pada saat ini hanya menjadi panggung perebutan kekuasaan. Banyak pejabat publik yang lupa akan tanggungjawab untuk melayani masyarakat. Kebijakan politik kurang membawa dampak sosial dan pemikiran yang baik bagi masyarakat (Hargen website 2016).
            Kondisi yang demikian rumit memunculkan sikap apatis dengan keadaan politik Indonesia. Akan tetapi beberapa waktu belakangan muncul tokoh-tokoh politik yang membawa harapan baru bagi Indonesia. Salah satunya adalah Basuki Tjahja Purnama, atau yang biasa disapa Ahoh. Saat ini Ahok menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ahok saat ini menjadi public figure yang cukup terkenal di Indonesia.
            Ahok dengan kebijakan publiknya berupaya untuk mengintegrasikan program pemerintah dengan masyakarat. Salah satu contoh kebijakan politik yang membawa pengaruh bagi masyarakat adalah bantuan untuk masyarakat Jakarta yang kurang mampu. Misalnya, Ahok meneruskan program-program pendahulunya, Joko Widodo dalam bantuan untuk masyarakat seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan lain-lain (Deustche Welle website 2016).
            Selain kebijakan politik yang terintegrasi dengan masyarakat, Ahok juga melawan praktik korupsi di pemerintahan dan membeberkannya di media. Hal tersebut menjadi daya tarik Ahok lainnya di dalam masa jabatannya. Ahok tidak segan memecat orang-orang yang kedapatan melalukan pelanggaran yang merugikan pemerintahan (Riaugreen website 2016).
            Manuver-manuver yang dilakukan oleh Ahok terasa seperti harapan baru di tengah perpolitikan Indonesia. Ahok menunjukkan sikap untuk berbuat baik kepada orang banyak. Perbuatan baik untuk orang banyak tersebut berasal dari kebijakan-kebijakan publik yang dibuat oleh Ahok.  Kebijakan Ahok juga membawa pengaruh kepada orang-orang yang berada di dalam pemerintahan, sebagai upaya untuk memberikan pemahaman mengenai pemerintahan yang berlangsung kepada masyarakat, sebagai bagian dari politik yang membawa dampak sosial.   
            Apa yang dilakukan Ahok pada saat ini jika dipandang dari sudut pandang Martin Luther dapat dikatakan sebagai bentuk sebuah reformasi. Martin Luther dalam pemahaman mengenai konsekuensi moral menekankan bahwa iman yang menyelamatkan harus terwujud dalam kasih dan perbuatan baik yang bermanfaat bagi semua orang. Perbuatan-perbuatan tersebut harus berujung pada perbuatan yang aktual. Contohnya adalah melawan ketidakadilam di berbagai bidang dan melawan penguasa yang melupakan tanggungjawab yang mereka miliki, sebagai bagian dari iman. (White 1981, 171).
            Luther menekan juga mengenai kekuasaan dalam politik. Kekuasaan yang dimiliki di dalam sistem politik akan selalu berhubungan dengan kebijakan-kebijakan yang hendak diambil oleh pihak-pihak yang berkuasa. Hal yang menjadi prioritas di dalam kekuasaan politik didasari dengan nilai-nilai Kristen. Politik yang didasari oleh iman Kristen menurut Luhter adalah politik yang nyata berupa aksi terhadap sesama. Aksi terhadap sesama yang menjadi makna dari kewarganegaraan (Ulrich 2005, 37).
            Jika melihat kinerja Ahok berdasarakan perspektif Martin Luther, dapat dikatakan bahwa Ahok sedang mengupayakan kebaikan bersama di dalam jabatan dan wewenang yang dia miliki. Sebenarnya pada dasarnya politik harusnya membawa dampak sosial yang baik bagi semua orang. Akan tetapi itu adalah sebuah pemahaman di dalam pemikiran, di dalam praktiknya hal tersebut sulit terjadi. Di tengah kesulitan tersebut Ahok dianggap sebagai pelopor dari gerakan politik yang membawa dampak bagi sesama.
            Perlawanan Ahok terhadap penyalahgunaan kekuasaan terlihat di dalam upayanya membongkar penyelewengan di DPRD DKI Jakarta (Riaugreen website 2016). Ahok menggunakan otoritas yang dia miliki sebagai gubernur untuk membongkar tatanan yang keliru di dalam pemerintahan yang dia pimpin. Selain itu dia juga menggunakan otoritas yang ada untuk mengambil sikap dalam penentuan kebijakan apakah sesuai dengan kebaikan bersama untuk warga Jakarta atau tidak. Warga Jakarta pun puas dengan kinerja yang ditunjukkan oleh gubernur mereka tersebut. Tingkat kepuasan warga Jakarta terhadap gubernur mereka tersebut mencapai 81,5 persen, yang mengalami peningkatan dari survei-survei sebelumnya (Liputan 6 website 2016) .
Kesimpulan
            Kebaikan dan kehidupan politik menjadi beberapa bagian dari etika Kristen Luther. Kebaikan menurut Luther adalah sebuah proses untuk memperbaiki hidup dan mengupayakan hal-hal yang sifatnya baik (White 1981, 153). Selain itu kebaikan yang dimaksud juga harus di dasari pada hukum Allah (White 1981, 158) dan menyadari pentingnya menjadi agen perubahan untuk kehidupan yang lebih baik (Gritsch & Jenson 1976, 185-186). Dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa politik yang membawa pengaruh harus berjalan seiring dengan kebaikan bersama berdasarkan hukum Allah, agar manusia memperoleh keselamatan dan kehidupan yang lebih baik.
            Ahok menunjukkan nilai-nilai kekristenan dari etos kerjanya. Etos kerja yang mementingkan kepentingan bersama menjadi nilai lebih Ahok dimata masyarakat. Selain itu keberanian dan kegigihan untuk meluruskan kembali makna otoritas dalam politik pun menjadi nilai lebih Ahok yang lain di tengah masyarakat. Politik yang mementingkan rakyat dan membawa nilai kebaikan bagi semua orang menjadi kebutuhan utama masyarakat Indonesia saat ini. Apa yang membuat Ahok dipuja oleh masyarakat pada saat ini disebabkan karena melalui kebijakannya lebih mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat.
            Ahok memberikan gambaran bagi masyarakat Indonesia mengenai apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kehidupan bangsa. Ahok menunjukkan pentingnya nilai-nilai kebaikan bersama. Sementara Etika Luther juga mengajarkan hal yang serupa melalui ajaran Etika Kristen. Nilai penting dalam etika Kristen Luther mengenai kebaikan adalah pentingnya untuk mendasari perbuatan baik atas dasar keyakinan akan keselamatan dan hukum yang berasal dari Allah (White 1981, 158). Etika Kristen Luther tersebut dapat membantu kita menyimpulkan bahwa kebaikan yang harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari harus didasari iman sebelum membawa dampak bagi orang lain, salah satunya melalui politik. Politik yang baik akan didukung oleh kebaikan untuk semua orang dan keyakinan dalam iman.
Daftar Acuan
Gritsch, Eric W and Robert W. Jenson: 1976. Lutheranism: The theological movement and its
            confessional writings. Philadelphia: Fortress Press.
Grosshans, Hans-Peter, 2001. Tokoh pemikir Kristen: Luther. Editor Peter Vardy.
            Yogyakarta: Kanisius.
Magnis-Suseno, Frans. 1994. Etika politik: Prinsip-prinsip moral dasar kenegaraan modern.
            Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Rendtorff, Truzt. 1989. Ethics vol. 2: Applications of an ethical theology. Translated by
            Keith Crim. Minneapolis: Fortress Press.
Ulrich, Hans G. 2005. In On the grammar of Lutheran ethics. In Lutheran ethics at
            The intersections of God’s one world,  Ed. Karen L. Bloomquist, 27-48. Geneva:
            The Lutheran World Federation Departement for Theology and Studies.
White, R.E.O. 1981. The changing continuity of Christian Ethics Vol. 2: The insights of story.
Exeter: The Paternoster Press.
Website
Hargen. Maraknya Kondisi Politik di Indonesia di Kalangan Masyarakat.
Deutsche Welle. Ahok, Gubernur Pertama Etnis Tionghoa. http://www.dw.com/id/ahok-   gubernur-pertama-etnis-tionghoa/a-17856713 (diakses 2 Mei 2016).
Liputan 6. Survei Tingkat Kepuasan Warga Terhadap Ahok 81,5 Persen
Riaugreen. Bongkar Korupsi DPRD DKI, Ahok Dipuji Menteri, Gubernur dan Pejabat